Tuesday, May 1, 2007

serukan:SBY adalah suatu keharusan..!! (18/8-04)

serukan:SBY adalah suatu keharusan..!! Topic List < Prev Topic | Next Topic >
Reply | Forward < Prev Message | Next Message >
Tadinya dalam tulisan2 saya yll saya nyatakan saya akan milih
SBY-JK karena nggak ada pilihan lain karena harus memilih dari
hanya dua calon yang ada dimana pilihan yang satu adalah
incumbent yang dalam 3,5 tahun prestasinya jeblok benar,
sehingga mau tak mau ke SBY dengan harapan akan ada prestasi.

Sekarang alasan saya akan memilih SBY-JK bukan lagi hanya alasan
diatas saja akan tetapi sudah didasarkan kepada perlawanan atas
jangan sampai terjadinya konspirasi kekuatan legislatif dan
eksekutif pada pemerintahan yad karena Golkar mendukung M-H
pada pilpres yad.
Apabila M-H menang maka koalisi Golkar,PDIP dan PPP serta PDS
dll di legislatif dan eksekutif akan pasti terjadi dan tidak
mustahil akan terjadi di judikatif.Check and balance akan
mandeg.Maka akan terjadi diktator mayoritas dinegara ini dan
pasti negeri ini akan habis mereka 'jual' dan habisi.

Dengan pemerintahan koalisinya limbuk yang sekarang ini saja,
eksekutif dan legislatif bisa berkonspirasi membuat UU yang
memusnahkan KPKPN sehingga mati dilebur ke KPK.

Dapat kita bayangkan pemerintahan nanti bila M-H menang.

Untuk sekali ini,terpaksa melalui forum ini saya tidak lagi
hanya sebatas melemparkan pendapat lagi tapi telah memihak
dan menyerukan kepada yang masih peduli atas jalannya
pemerintahan yang baik di negeri ini,yang masih menginginkan
kemajuan negeri ini dan yang pro reformasi agar menyerukan
kepada seluruh rakyat Indonesia untuk memilih SBY-JK saja.

Serukanlah:Pilih SBY-JK.


gdbct.

Re:SBY....;akankah seperti F Ramos? (6/8-04)

Re: SBY dan jejak rekamnya ...;akankah seperti F Ramos? Topic List < Prev Topic | Next Topic >
Reply | Forward < Prev Message | Next Message >
Apakah jejak suksesi presiden Mega di Indonesia akan mengikuti jejak suksesi
presiden Corazon Aquino di Philippina yaitu sama sama digantikan oleh ex militer
yang telah jadi sipil dan melalui pemilu?
Dari sisi latar belakang jadi presiden bagi Mega dan Corazon mirip benar adalah
karena sama2 disebabkan nama besar dari Sukarno dan Aquino yang ditindas.
Membaca sekilas riwayat Fidel Ramos yang menggantikan Corazon,maka pada masa
Marcos dia termasuk elit militer yang cukup lama dipakai pemerintahan
Marcos.Dalam pencalonannya dalam pemilu presiden,lawan2 politiknya juga
mengangkat latarbelakangnya yang militer,yang dekat dengan Marcos,bahaya
pemberlakuan kembali 'martial law' gaya Marcos.
Dalam masa pemerintahan Ramos sepertinya tidak terdengar dia memimpin dengan
cara diktatorian/militerism seperti bosnya Marcos,tidak melindungi keluarga
Marcos,malah dieranya sebagian hasil jarahan Marcos dapat dikembalikan.
Apakah ini karena konstitusi dan sistem pemerintahan Philippina yang tidak
memungkinkannya lagi sebebas Marcos atau Ramosnya yang sudah pro demokrasi atau
juga karena tidak ada gunanya bagi dia neko2 karena kesempatan jadi presiden di
Philippina hanya sekali saja menurut konstitusi Philippina yang baru?Apakah
konstitusi Indo. perlu dirobah agar hanya sekali saja boleh jadi Presiden ?
Kalau suksesi presiden Indonesia yang terjadi nanti benar seperti di Philippina
maka diharapkan bahwa SBY akan seperti Fidel Ramos yang pro Demokrasi dalam
memerintah.
Baca resume biography F Ramos dibawah.

gdbct


Fidel Ramos
Philippines President

Fidel Ramos


Philippines President Born: March 18, 1928; Lingayen, Philippines


Education:

BS, West Point Military Academy, 1950; MS (civil engineering), University of
Illinois, 1951; Masters in national security administration, National Defense
College, Philippines, 1969; MBA, Ateneo de Manila University, 1980 Military
Service With Philippines Armed Forces, 1951-91; Commander, Philippine
Constabulary, 1970-72; Deputy armed forces chief of staff, 1972-84, 85-86;
Acting as chief of staff, 1984-85; Army chief of staff, 1986-88; Secretary of
defense, {1988-92)

Occupation:


Soldier , Engineer.


Family:

Wife, Amelita Martinez; 5 daughters
Early Years: Served alongside U.S. soliders during Korean War; Commanded a
Philippines Armed Forces (AFP) contingent during Vietnam War
Political Career: After long association with Ferdinand Marcos, through support
behind opposition leader Corazon Aquino, 1986; Elected president when Aquino's
term expired, 1992
Office: Malacanang Palace Compound, J P Laurel St., San Miguel, Manila,
Philippines

Related Site:Philippines Government Home Page

Sources:

Current Biography, 1994; Newsmakers, 1995; Who's Who in the World, 1996


Lieutenant-General Fidel Ramos, president of the Philippines since 1992, is the
subject of controversy among his countrymen due to his contradictory past
loyalties. He has an apparent commitment to democracy, yet he had a longtime
association with the late Philippine dictator Ferdinand Marcos. For 16 years,
Ramos headed the Philippine Constabulary -- the country's national police force
-- which was responsible for many human rights abuses during the Marcos regime.
He also served as vice-chief of the armed forces and was a trusted advisor to
Marcos. In fact, the two were cousins. But when the reformist "people power"
movement, led by Corazon Aquino, ousted the Marcos regime, Ramos loyally served
the Aquino administration.

After she assumed the presidency, Corazon Aquino appointed Gen. Ramos chief of
staff of the armed forces. Although some accused him of partisanship, supporters
say he was a loyal backer of Aquino, quelling seven coup attempts against the
Aquino government. In 1988 she appointed him secretary of defense. He served in
that post, but his presidential aspirations were widely recognized. In December
1991, with Corazon Aquino forbidden by law to succeed herself, Ramos declared
his candidacy. Aquino did not endorse her colleague and he did not receive the
party's nomination. He promptly formed his own independent political
organization, and only then did Aquino endorse his presidential bid. Ramos
campaigned vigorously among stockbrokers, executives and rural politicians.
Although critics reminded voters of Ramos' implementation of martial law under
Marcos, he won in a relatively peaceful election.

Ramos made his objectives political and economic stability -- the unification of
the country and revival of the Philippine economy. He met with a communist
insurgency movement and Islamic separatists and attempted to disband hundreds of
warlord groups engaged in smuggling and drug-running. He launched a reform of
the notoriously corrupt police force. To improve the economy he increased
production of electric power and encouraged international investment.

Most Philippinos have viewed Ramos' accession to the presidency with optimism,
and his public approval rating has remained high.

Ramos has long had close ties to the United States. He is a graduate of West
Point Military Academy, and later received an M.A. in engineering from the
University of Illinois. He also earned an M.B.A. degree. Ramos fought alongside
U.S. forces in the Korean War and later commanded a Philippine military
contingent in the Vietnam War.

Milih siapa ?....SBY-lah: Tapi...(1/8-04)

Milih siapa ?....SBY-lah: Tapi Ternyata Megawati lebih Cerdas dari J Topic List < Prev Topic | Next Topic >
Reply | Forward < Prev Message | Next Message >
Re: [apakabar] Milih siapa ?....SBY-lah: Tapi Ternyata Megawati lebih Cerdas dari Jenderal SBY


----- Original Message -----
From: Cinta Bangsa
To: apakabar@yahoogroups.com
Sent: Friday, July 30, 2004 6:33 PM
Subject: [apakabar] Milih siapa ?....SBY-lah: Tapi Ternyata Megawati lebih Cerdas dari Jenderal SBY

gd.
Hormat saya buat CB yang dengan detil mencoba mengemukakan pandangannya kedalam thread ini....:-)

CintaBangsa mau ikut nimbrung dalam diskusi ini:

gbdct berkata: Tim Mega Center (TMC) atau Tim Kerja Mega Hasyim (TKMH) atau Tim Pemenangan Mega Hasyim(TPMH) berpusat di jakarta dan secara organisatoris tersebar mengikuti struktur PDIP diseluruh wilayah Indonesia. Di Pusat, Limbuk tidak menempatkan ex militer pendukungnya di TMC atau TKMH atau TPMH, tapi berada didekat sekitar limbuk menjadi penasihat2nya dibelakang layar. Gubernur2 yang ex jenderal militer yang lebih dijagokan dari kadernya sendiri itu adalah termasuk penasihat2 TMC di wilayah kerjanya. Tadinya HP,HS,AG hendak dimasukkan resmi jadi anggota TMC Pusat tapi banyak yang protes dari luar ; bukan berarti tidak dipakai,malah ikut dalam rapat2 TMC. Malah tadinya SBY sebelum pisah ranjang adalah orang dekatnya lho.

CB
Di sekitar Megawati pasti ada eks militer, tapi mereka ada di lingkar tiga, atau paling banter lingkar dua. Itu tak terhindarkan by nature, selamanya. Tetapi elitnya tetaplah sipil. Ini yang penting, karena isu sesungguhnya dalam konteks ini ialah SUPREMASI SIPIL.

gd.
Aiiihh.....itukan hanya formal penampakan saja .........yang strategisnya y.i budaya,konsepsi dan cara pikir itu dikendalikan mereka.Ternyata realitas budaya,perilaku,perbuatan,tatacara dan warna yang terjadi dilapangan adalah konsepsi dan cara pikir mereka itu.
Ingat nggak zaman Soe dimana aspri yang nggak keliatan itu yang menggiring dan mewarnai budaya kerja Soe ??? yang saking berperannya dibelakang layar malah hendak pagar makan tanaman waktu itu?? Panglima abri waktu itu yang orang2 luar menganggap powerfull ahirnya mental dari peredaran.Kalau pembantu2 Soe waktu itu (level menteri) dianggap debu saja.
Jangan2 pejuang2 PDIP yang membesarkan PDIP sebelum limbuk meraih kekuasaan dinegeri ini yang sering makan nasi bungkus dengan dia waktu sebelum berkuasa itu (a.l DH,EJ,SS,TS,),pada terpental adalah strategi dan konsep mereka.

gbdct berkata: Bedanya diantara mereka hanya SBY secara terus terang menunjukkan orang2 militer yang ada mengelilinginya sedangkan MS menempatkannya tidak terus terang saja, tapi semua orang dapat melihat dan mengetahuinya.

CB
Ini bukan soal terus terang atau tidak, tetapi soal karakter dasar kelompok itu. Di kubu SBY elitnya yang eks militer, sipil-sipilnya di lingkar 2 atau 3. Justru di sini soalnya sekali lagi: SUPREMASI SIPIL atau TIDAK.

gd.
Seperti omongan saya diatas,bagi saya bukan penampakan/simbol2 itu yang penting,tapi budaya,konsepsi dan cara pikir.

gbdct berkata: Kau tanyakanlah kawan2 kita yang dari Karo mengenai itu...atau ada apakabarian ini yang dari Karo...mungkin bisa ngejelasin.

CB
Ini tidak relevan karena kawan-kawan KARO yang ada di kubu Megawati semuanya sipil, kecuali barangkali ada satu atau dua. KARO secara tradisional adalah stronghold pemilih Soekarno dan sekarang Megawati. Buktinya, dalam pilpres putaran 1 di Kabupaten KARO, Megawati mendapat suara 72,25 %. Jadi soal KARO tidak relevan dgn soal militerisme yang Anda tengarai.

gbdct berkata: Bagi saya sih......seperti sejak semula saya kemukakan dalam tulisan2 saya disini ....kedua-duanya ini sama2 tidak bisa diharapkan terlalu banyak melanjutkan reformasi dan pemberantasan KKN yang sudah parah itu.

CB
Harus ada harapan, betapa pun kecilnya harapan itu. Terlebih, nyatanya keduanya yang masuk putaran kedua. Reformasi, termasuk pemberantasan KKN, bukan proyek 3-5 tahun, tetapi 30-50 tahun sedikitnya. Bandingkan saja soal rasialisme di AS yang memakan waktu ratusan tahun untuk berhasil, meskipun masih belum ideal juga. Saya berpendapat, mengakhiri budaya KKN di Indonesia akan makan waktu sangat lama, tak cukup 3 tahun.

Mengapa banyak orang marah/frustrasi/sebal/tidak puas kepada Megawati, antara lain terletak dalam soal harapan. Harapan (level of expectation) mereka terlalu tinggi bahwa penyakit kronis KKN bisa selesai dalam 3 tahun. Bagaimana pun, kita harus lebih sabar. Yang penting dalam hal ini ialah apakah kita sedang bergerak ke arah yang benar atau tidak. Dalam kaitan ini, kita perlu mengingat petuah orang bijak: Tidak begitu penting di mana kita berada sekarang, tetapi yang penting ke arah mana kita bergerak. Nah, kalau Anda baca Visi, Misi, dan Rekommendasi 5 pasangan MH, kan jelas arahnya kemana. Ini yang harus kita ingat dan perkuat agar lebih berhasil di periode berikut, sekali lagi, di bawah SUPREMASI SIPIL.

gbdct berkata: MS sudah membuktikannya selama 3 tahun lebih dia jadi presiden, kurang cerdas, diam melulu,otoritarian, kebanyakan tidur siang.

CB
Megawati tidak memuaskan semua orang, jawabnya YA. Megawati belum berhasil secara spektakuler, jawabnya YA. Megawati tidak mampu memberikan obat dewa kepada negeri ini, jawabnya YA. Tetapi kalau dibilang tak ada prestasi apa-apa, saya kira keterlaluan. Semua orang bisa melihatnya dalam salah satu dokumen kampanye MH yang disebut GAJAH DI PELUPUK MATA TIDAK KELIHATAN (kunjungi www.megahasyim.com untuk melihatnya.

gd.
-Arah Negara ini bergerak kearah yang benar bukanlah kerjaan Presiden sebagai kepala eksekutif atau sebagai kepala negara, ,tetapi adalah kerja MPR,lho.Penjabaran arah itu agar dapat dieksekusi berupa UU adalah kerjaan kepala eksekutif bersama DPR dan terahir disyahkan kepala negara.
Mengeksekusi UU itu adalah kerjaan kepala eksekutif......disini limbuk ambil peranan.
-Dalam 3 thn lebih limbuk jadi kepala eksekutif ,apa yang sudah di eksekusinya???Nyalahin anak buah melulu-khan??Nyalahin warisan saja bukan???Untuk apa dia jadi kepala eksekutif???Negeri ini tetap masuk 3 besar terkorup di dunia.
Tidak satupun tindakannya memberikan tanda2 adanya usaha2 perbaikan.Jakgungnya yang tidak bisa jelasin hartanya saja dilindungi.(ataukah saling lindungi??)
Hampir semua komoditi pertanian/pangan(beras,gula,kedele,buah2an,daging dll ) diizinkan diimpor,karena secara cepat menghasilkan untung /komisi bagi pengusaha/oknum birokrat-penguasa,tetapi sebaliknya memiskinkan petani2 negeri sendiri dan menguras devisa yang susah payah dikumpulkan.
Untuk apa dia jadi kepala eksekutif kalau kasus 27 Juli saja yang menyangkut kader2nya dan segar diingatannya,prosesnya
dibiarkan molor mungkret nggak jelas juntrungannya ???
Untuk apa dia jadi kepala negara kalau KPKPN yang kinerjanya kita ketahui cukup lumayan,membiarkan saja UU nya di eliminasi oleh DPR dan KPKPN itu dilebur ke KPK??
Hal2 diatas dapat saja di jawab dan dijelaskan kenapanya ..........tapi bukan penjelasan itu yang perlu......tapi...intinya adalah apa yang sudah diperbuatnya sebagai langkah2 kecil yang memberikan harapan bagi rakyat yang menunggu nunggu?

CB.
Megawati kurang cerdas? Tidak juga! Akan saya tunjukkan di bawah bahwa Megawati lebih cerdas dibandingkan Jenderal SBY. Perlu diketahui, setidaknya ada 7 macam kecerdasan manusia. Pertama, kecerdasan musikal, contohnya milik Beethoven. Kedua, kecerdasan verbal, contohnya milik Bung Karno dan dalam derajat yang lebih rendah milik SBY. Ketiga, kecerdasan sosial, contohnya milik Bob Hope. Keempat, kecerdasan matematikal, contohnya milik Habibie. Kelima, kecerdasan politikal, contohnya milik Akbar Tandjung. Keenam, kecerdasan moral/spiritual, contohnya milik Aa Gym. Ketujuh, kecerdasan fisikal, contohnya milik Rudy Hartono. Nah, kecerdasan mana yang Anda maksud rendah pada Megawati sehingga tak layak menjadi presiden?

Apakah Megawati cerdas secara signifikan komplit dalam 7 bidang? Jelas tidak. Tak seorang manusia pun demikian. Tuhan menganugerahkan porsi kecerdasaan yang sesuai bagi tiap-tiap orang. Tetapi menurut saya, Megawati itu cerdas, utamanya di bidang moral/spiritual, politikal, sosial, dan verbal. Dapatkah Anda menemukan cacat moral serius pada Megawati? Nyatanya dia orang jujur, saking jujurnya dia tidak bisa bersandiwara atau mencla-mencle seperti kebanyakan politisi lainnya. Dia tak punya wajah seorang pemain poker. Dia juga mampu memaafkan orang-orang yang pernah menzaliminya. Ingat, Megawatilah yang pertama berseru supaya jangan menghujat Soeharto. Bandingkan dengan dengan banyak kita-kita di milis ini yang gemar memakai kata-kata immoral bila tak bersetuju dengan lainnya. Dari semua jenis kecerdasan, kecerdasan moral spiritual adalah yang paling fundamental untuk kualifikasi seorang pemimpin, terutama presiden. Artinya, tanpa kecerdasan moral/spiritual yang kuat maka keenam kecerdasan lainnya tak begitu bermanfaat bagi masyarakat, bahkan justru membahayakan. Bukankah para penjahat negara dan koruptor adalah orang-orang cerdas minus moralitas/spiritualitas?

gd
Okey,saya ikuti alur pemikiran anda.
-Apakah limbuk yang ikut konspirasi menjatuhkan GD di MPR itu memiliki kecerdasan moral/spiritual yang heibat?
-Jangan menghujat Soeharto bukan berarti tidak memprosesnya secara hukum,seharusnya ini salah satu prioritasnya.
-Apakah secara moral /spiritual limbuk itu heibat dengan membiarkan korban2 soe baik politik(a.l korban2 p.Buru,korban2 pembunuhan massal 1966,korban Aceh,Priok,27 Juli dll),ekonomi (a.l pemiskinan sebagian besar rakyat Indo. karena KKN yang parah selama Soe berkuasa) tidak memperoleh keadilan atas penderitaan mereka selama ini dengan mengatakan agar Soe jangan dihujat tetapi membiarkan Soe tidak diproses secara hukum ?Apakah itu pertanda orang yang jujur,tidak mencla mencle?
-Apakah kita memerlukan orang pemaaf disatu pihak dengan menisbikan penderitaan berat korban dari orang yang dimaafkan???
-Apakah orang seperti itu yang memiliki kecerdasan moral/spiritual yang heibat????
Sebaiknya menilai harus dari 2 sisi-laah !!!!

CB.
Megawati juga cerdas secara politikal, buktinya dia mampu menjadi menjadi ketua DPC lalu menjadi Ketua Umum PDI-Perjuangan, bahkan akhirnya menjadi presiden. Dia berhasil menjaga partainya dari rongrongan Soerjadi Cs dulu. Dia bahkan sukses menjaga PDI-P dari gempuran Soeharto. Pasca Soeharto, PDI-P bahkan menjadi partai terbesar. Jadi tidak ada dadakan simsalabim di sini. Kalau sekadar karisma Bung Karno, meski pun ini faktor plus juga, mengapa bukan saudara-saudaranya yang lain yang menjadi tokoh partai lalu kemudian tokoh bangsa? Sejak bagian akhir era Soeharto, Megawati telah menjadi salah satu politikus terpenting di Indonesia.

gd.
Suryadi merekrut limbuk dulu dengan maksud memanfaatkannya karena anak Bung Karno,bukan karena limbuk seorang politikus.PDI waktu itu adalah sarang dari tokoh2 ex pengikut Bung Karno baik dari PNI,Partindo,Parkindo,partai katolik.
Masuknya limbuk ke PDI disambut gegap gempita oleh pentolan2 ex pengikut Bung Karno baik itu yang aktif di PDI.
Tidak ada pilihan lain dalam dunia politik mereka kecuali mendukung Limbuk dan inilah motor raksasa yang mendorong limbuk keatas hingga jadi besar (termasuk gus Dur).Setelah jadi besar,terjadi krisis politik dan dwifungsi,ex2 militer dan ex orba mulai masuk ketubuh PDI/P mendukung dia.Sebelum limbuk jadi wapres/pres pentolan2 ex pengikut BK itu masih berperan di PDIP.
Setelah limbuk jadi wapres dan kemudian jadi pres. terjadilah pergeseran2 didalam hingga pendukung2 setianya yang membesarkan dia itu pada terpental keluar atau non job atau di-non fungsionalkan atas desakan2/manuver dari pendukung barunya.Jadi dia besar bukan karena kehebatannya tapi karena tiada pilihan bagi ex pengagum/pengikut BK untuk membesarkannya dengan harapan akan dapat memanfaatkannya.Mereka2 itu salah perhitungan karena ada TK disana yang dapat membaca itu semua sehingga merekrut politisi2 Orba dan ex militer masuk kedalam.Sekarang disana itu saling memanfaatkan.Menurut saya sih limbuk itu adalah turunan biologis dari Bung Karno dengan gen dominan dari bu Fat yang lebih senang tinggal dirumah,urusan keluarga,dapur, kebon,momong anak/cucu, bobok siang dll.

CB.
Bagaimana dengan kecerdasan sosialnya? Lihat saja akhir-akhir ini. Yang mana lebih digemari sebagai mitra koalisi: Megawati atau Jenderal SBY? Mengapa Megawati lebih disukai? Jawabnya: dia cerdas secara sosial. Dia lebih menyenangkan sebagai friend. Dia tak pernah bersikap dan berkata kasar. Terhadap orang yang menyakitinya pun dia tak pernah jahat. Tak ada dendam di hatinya. Buktinya, kepada seorang Sutiyoso dan SBY yang terlibat dalam peristiwa 27 Juli pun dia memberi kesempatan. Dia terkesan pendiam. Tetapi menurut orang-orang dekatnya dia suka ngobrol kok. Dia terlihat dingin hanya kepada orang yang belum dikenalnya atau menurut intuisinya akan take advantage dari dia. Dia setia kepada kawan-kawannya. Hanya kawan-kawannya yang memaksakan kehendaknya saja dia akhirnya membiarkan orang itu pergi dan menjauh. Dia sendiri tak pernah memecat anakbuahnya. Dia juga willing to share bahkan murah hati dalam sharing kekuasaan. Inilah sebab mengapa tokoh-tokoh partai lebih suka padanya. Bandingkan dengan SBY. Gus Dur pernah komplein: Belum jadi presiden aja sudah pasang harga tinggi. Sejumlah media sudah komplein: SBY mulai jumawa. Terakhir Akbar Tandjung menyodok: SBY tidak menghargai partai-partai politik. Dia menutup pintu bagi kerjasama. Dia ingin memenopoli sendiri kekuasaan. Dia pelit berkoalisi.

gd.
Apakah ketidak mampuan limbuk untuk meminggirkan Sutiyoso yang jelas2 bermasalah anda sebut karena kecerdasan social?
Menurut saya sih ini karena kedunguan social.!!!
Saya sih tidak perlu apa kata orang dekatnya (karena biasanya jilatan2 karena kepentingan) tapi dari apa saja yang telah diperbuatnya,dilakukannya,dikerjakannya,diomongkannya di realitas kehidupan yang terjadi ditengah2 rakyat negeri ini.
Apakah dengan hanya mengutus putrinya Maharani untuk berkunjung ke Ambon melihat kejadian yang dialami rakyat Ambon dan memberi sumbangan entah atas nama siapa disana,berkunjung ke Aceh hanya sampai dilapangan terbang dan sejam kemudian balik kiri ke Jakarta adalah merupakan kecerdasan social???
Untuk apa itu kecerdasan social hanya dikalangan bangsawan2 partai yang kita semua tahu mereka2 itu hanya memikirkan kepentingannya sendiri tetapi tidak cerdas dalam turun bersocialisasi dengan rakyatnya?
Pernah nggak baca dikoran/dengar berita yang wartawan nggak bisa wawancara dengan dia karena dia ngambek karena wartawan tidak sopan katanya?

Megawati juga cerdas secara verbal, meskipun tidak sehebat Bung Karno. Dia banyak diam bukan karena tak piawai bicara, tetapi dia sudah sering jelaskan alasannya. Jadi diamnya itu adalah sebuah pilihan bukan karena tidak mampu. Buktinya, saat debat capres Megawati vs Amien Rais, yang konon paling jago dalam kecerdasan verbal, apakah Megawati kelihatan idiot? Tidak juga kan? Masalahnya, kita-kita ini gemar pada retorika dan kata-kata berbunga dan bersayap. Tapi, kalau dipikir secara dingin, lebih penting mana bagi seorang pemimpin Indonesia: retorika atau esensi? Megawati memilih diam meskipun dia tahu diamnya tak populer. Dan itu bisa ditafsirkan sebagai sebuah karakter yang kuat.

gd.
Saya pernah menanyakan kepada kawan2 yang pernah bersama2 mendengar sambutan spontan limbuk ini mengenai apa yang dibicarakannya pada sambutan spontan itu.Tadinya saya agak segan mau bertanya ke kawan2 itu takut dipermalukan tetapi setelah satu persatu saya lihat muka mereka ternyata semua juga bingung menjelaskan karena tidak mengerti.
Paling ucapan2 retorika 'merdeka' ,'hidup wong cilik.' yang bisa dingerti.

Megawati kebanyakan tidur siang? Wah, saya kira cuma anak-anak dan suaminya yang berhak mengatakan demikian jika benar. Kita-kita yang tak pernah menemani Presiden Megawati selama 3 tahun x 365 hari x 24 jam ini, tidak punya hak moral, tidak qualified, mengatakannya. Orang-orang dekatnya selalu mengatakan - dan Megawati sendiri pun selalu mengatakan - bahwa dia selalu bekerja keras.

Megawati otoritarian? Ini pun jauh panggang dari api. Karena dia sangat konstitusional lah maka proses penegakan hukum di negeri ini menjadi sangat lambat rasanya. Lihat saja kasus Halid dan Puteh belakangan ini. Kalau Megawati otoriter, sudah sejak bulan lalu keduanya masuk penjara.

gd.
Apakah sebutan kepada orang yang tidak mau menerima masukan dari bawahannya apakah itu dari struktur di DPPnya atau dari daerah2 dan tidak hanya dari satu daerah tapi hampir dari seluruh daerah a.l dalam pencalonan gubernur2 itu?
Apakah artinya kalau untuk pencalonan Gubernur,bupati dan walikota harus ada rekomendasi dari limbuk?
Kalau untuk kasus Halid dan Puteh dia tidak perlu otoritarian lah,tapi dia perlu tegas.Masa untuk menonaktifkan Puteh saja nggak bisa tegas,muter2.

Mari kita ingat, hukum dan demokrasi bukan sekadar sistem tetapi juga prosedur. Prosedur hukum lah yang membuat The Halid Brothers bisa mengelak dengan alasan sakit. Dan secara umum, ini juga salah satu penjelasan mengapa penegakan hukum di negeri ini terasa berjalan bagaikan siput. Kalau mengikuti rasa keadilan masyarakat, mestinya langsung saja penjahat-penjahat republik ini dieksekusi oleh petrus-petrus baru
.

gd.
Maksudnya saya setuju banget.
Mungkin yang tepat adalah hukum dan demokrasi itu adalah suatu sistem yang tidak hanya melihat hasil ahirnya (output) tapi juga harus memperhatikan prosesnya a.l prosedure.
Apakah limbuk dalam membangun perumahan Brimob di Jl.Kwitang mengikuti prosedure perundangan mengenai pengalokasiaan anggaran?? Menurut bisikan si menteri sek.neg (saya lupa namanya, anak buahnya si Moerdiono itu),wangnya diambil dari anggaran non budgeter Presiden ex Bulog? yang sebenarnya sudah dihapus/dilarang adanya pos dana itu oleh DPR dan telah di kembalikan ke Kas Negara di Dpt.Kew.???
Apakah pembelian pesawat Sukhoi dari Rusia oleh geng Rini Suwandi dan Wijanarko yang disetujui limbuk itu dan diperintahkan diambil dari APBN yang telah di UU kan,padahalnya pos anggaran pembeliannya tidak pernah dialokasikan di APBN?????
Kenapa kalau untuk yang begitu dia tidak mengikuti sistem/prosedurenya malah dikerjakan secara cepat tapi hanya untuk menonaktifkan si Puteh yang sudah tersangka bukan main sulitnya ??pada hal itu adalah bawahannya?

gbdct berkata: Meaawati menyalahkan pembantu2nya dan warisan yang diperolehnya dimana itu sudah merupakan habit, tabiat,sifat yang akan terus dia bawa-bawa.

Mungkin ada benarnya. Kita pun di rumah masing-masing pasti sekali dua kali menyalahkan pembantu atau sopir kita, bahkan memecat mereka. CEO perusahaan pasti di sana-sini juga menyalahkan bawahannya bahkan memecat mereka. Wajar jika Megawati pun di sana sini menyalahkan pembantunya. Tapi mari kita lihat dua mantan pembantu utama Megawati: eks Menko Kesra dan eks Menko Polkam. Sejauh ini belum pernah kita dengar Megawati menyalahkan keduanya secara publik.

Sebagai menteri utama mereka berdua telah bersumpah akan menjalankan tugasnya dengan baik sampai tuntas. Nyatanya mereka berdua mundur di tengah jalan, dan tidak cuma itu, mereka bahkan bersatu padu melawan eks atasannya. Moralitas apa yang mereka berdua tunjukkan dan teladankan. Memang wajar bila ada bawahan yang tidak puas pada atasannya. Pilihan terakhir tentu mundur. Itu yang pernah dilakukan Hatta dan TB Simatupang. Tetapi Hatta dan Simatupang sampai akhir hayatnya tak pernah menjelekkan Soekarno. Hatta bahkan secara pribadi tetap menjaga persahabatan dengan Soekarno dengan berkirim surat. Dalam segala kekecewaanya, Hatta dan Simatupang tetap menjaga dan menghormati kewibawaan Soekarno. Mereka memilih mundur dan menderita dalam diam. Tidak komplein apalagi melawan.

Dalam derajat yang lain, hal yang sama ditunjukkan oleh Jenderal AH Nasution dan Jenderal M Jusuf. Nasution membawa uneg-uneg hatinya sampai mati. M Jusuf pun tampaknya akan demikian. Mereka tidak pernah mengata-ngatai atasannya, apalagi bangkit melawan pemimpinnya. Mereka menunjukkan karakter perwira dan pahlawan sejati.

Bandingkan dengan Jenderal SBY. Sebenarnya publik tak pernah tahu apa sebenarnya ketidakpuasan Jenderal SBY terhadap Presiden Megawati. SBY telah diberi otoritas dan ruang yang sangat luas dalam menjalankan tugasnya, meski pun kita tahu, tak ada yang memuaskan di Aceh, Ambon, atau Papua. Di Poso, malah JK yang berjasa. Di zaman Soeharto mana ada seorang pembantunya boleh bersinar seterang SBY di bawah Megawati.

Hanya karena SBY merasa tak diundang rapat di istana, yang notabene adalah rapat kabinet rutin, ia lalu ngambek dan komplein di media. Andaikan benar demikian pun, tak layak lah ia merasa dizalimi. Kata zalim hanya kita pakai untuk perlakuan yang di luar batas perikemanusiaan. Apakah tak diundang rapat sudah tepat disebut dizalimi? Sebenarnya, publik harus bertanya, lebih penting lagi SBY harus bertanya pada dirinya, mengapa dia sampai tak diundang? Apa kesalahan dirinya, apa yang dilakukan SBY sebelum dia tak lagi ikut diundang rapat? Mestinya dia introspeksi dulu sebelum komplein. Juga, publik harus bertanya, mengapa sampai Taufik Kiemas menyebut SBY kekanak-kanakan, terlepas bahwa ucapan itu di di depan media barangkali kurang etis. Sekali lagi, moralitas kepemimpinan apa yang didemonstrasikan Jenderal SBY sampai ia berani mengangkat tinjunya melawan atasannya.

Lebih-lebih dengan Jusuf Kalla. Kita tak pernah tahu bahwa ia tidak puas pada kepemimpinan Megawati. JK bahkan sebenarnya dianggap Menko yang sukses. Tetapi ia mundur juga dan tega tidak menyelesaikan tugas yang diamanahkan oleh presidennya. Katakan saja Megawati dianggap kurang sukses, tetapi adalah tugas seorang bawahan untuk sekuat tenaga menyumbang prestasi bagi atasannya, bukan meninggalkan tugas, melalaikan amanah, lalu bahkan bangkit melawan atasannya. Moralitas kepemimpinan apa ini? Kalau pun kita harus menebak-nebak, satu-satunya alasan yang masuk akal bagi JK sampai melupakan amanah presidennya dan bangsanya, ialah karena ia sendiri menghendaki kedudukan atasannya. JK pernah bilang, saya memang opportunis. Di dunia bisnis (JK kan orang bisnis) orang memang selalu mencari opportunitas baru. Tetapi dalam kasus JK, opportunitas menjadi wapres telah mengalahkan sumpah jabatan, komitmen panggilan tugas dan amanah negara. Bagi saya, inilah cacat moral terbesar SBY dan JK. Sebutan apakah yang tepat bagi orang yang meninggalkan amanah? Netter sekalian bisa menemukan istilahnya. Di dunia militer, prajurit yang meninggalkan tugasnya disebut desersi.

gd.
Ho..ho..ho..ngk.
Kalau cara berpikir ototarian/militeristik/feodalistik memang demikian itu.Bawahan tidak boleh menyaingi atasan,lebih2 hendak merebut jabatannya walupun secara prosedur dan sistem yang ada.Orang Sumantra memvonnisnya dengan kualat.
Semua milik2 bawahan harus lebih rendah kwalitas dan kwantitasnya dari atasan.Kalau atasan punya 5 mobil maka bawahan jangan samapai punya 5 bh.Bila perlu,walaupun atasan nggak tau merek celana dalam bawahannya tapi sibawahan wajib tahu merek celana dalam atasannya supaya bawahan itu tidak membeli yang sama,tapi harus yang lebih rendah kwalitasnya.:-)
Kalau kita menganut paham demokratik dan menjunjung HAM maka limbuk dan geng nya harusnya tidak mempermasalahkan keinginan SBY itu,harus dengan sukarela melepasnya.
Begitu SBY mempersiapkan partainya,pentolan2 PDIP sudah ribut menyatakan bahwa ada menteri yang tidak loyal kepada atasannya ,tidak etis dan harus mengundurkan diri saja.Pada hal SBY sudah menyatakan bila tiba saatnya akan permisi mau mundur secara baik2.Mereka hanya ribut atas rencana SBY saja.Padahal pada waktu itu ada Yusril juga mempersiapkan diri jadi capres bila partainya dapat suara minimal yang disyaratkan,ada JKalla yang sudah mempersiapkan diri mengikuti konvensi capres Golkar.Tetapi kepada kedua orang terahir itu pentolan2 PDIP itu tidak galak,pada hal sama2 bawahan/pembantu Presiden.Jadi mereka takut karena potensi dan kemampuan SBY yang demikian besar.
Tidak pernah SBY menyatakan dia tidak puas atas atasannya.Adanya keinginannya untuk jadi Presiden tentu tidak boleh dihalang halangi oleh posisi sebagai pembantu presiden,dihalang halangi oleh ungkapan ototarian 'tidak loyal' 'tidak etis' itu.
Siapakah yang tidak bermoral dalam hal ini ?
Istilah desersi itu hanya ada dikalangan tentara karena yang bersangkutan tidak berada lagi ditempat tugas/tempat dia seharusnya ada untuk melakukan tugas/pekerjaan sebagaimana diperintahkan atasannya,tidak melaporkan hasil perintah itu karena dia menghilang atau membelot kepihak lawan.
Saya kira SBY jauh dari posisi itu,karena dia tetap berkeinginan melaksanakan tugas2 yang dibebankan kepadanya dan bila tiba saatnya dia akan permisi dengan baik2 ke limbuk.Eeeeh ...pentolan Mega yang di PDIP atau DPR ribut nggak karuan kebakaran jenggot menggosok2 limbuk dan berupaya mengucilkan SBY a.l melalui setneg untuk tidak diundang dalam rapat kabinet,tidak diundang /diikutkan mengkoordinasikan bidang sospol rapat di DPR.Undangan rapat koordinasi dikantornya untuk bidang sospol dengan instansi terkait yang diundangnya,gagal karena yang hadir tidak berkompeten.
Sekali lagi ,siapakah yang tidak bermoral dalam hal ini dimana karena kepentingan kelompok/sektarian lalu meniadakan kepentingan bangsa yang lebih luas??

gbdct berkata: Sedangkan SBY memang adalah warisan Soeharto yang tidak bisa menghindar total dari lingkungan masa lalunya tetapi lebih cerdas untuk kita coba selama 5 tahun kedepan.

Nah, Anda sendiri melihat problem SBY yang serius itu bagi kelanjutan reformasi. Dengan kata lain sebenarnya SBY pun bukan pilihan Anda jika Anda konsisten dengan cita-cita reformasi.

Dari semula bukankah saya sudah mengatakan dua2nya sulit diharapkan untuk melanjutkan reformasi dan memberantas KKN,hanya saya lebih memilih SBY-lah karena lebih cerdas,dan kita coba untuk 5 tahun yad,dengan harapan saya keliru memprediksi SBY;Sedangkan untuk limbuk,dengan penampilan 3 tahun lebih itu sudah memberi gambaran pasti bahwa reformasi akan mandeg dan KKN akan menggila,lebih2 karena ini adalah periode terahir boleh lagi jadi presiden (karena hanya boleh 2 kali) dan dianya tidak lebih baguslah dari SBY.


Lalu Anda mau anjurkan agar pilih SBY karena lebih cerdas dari Megawati? Secara musikal ya. Tapi apakah kepandaian bernyanyi secara esensial penting bagi kepemimpinan sebuah bangsa? Lebih penting kah itu dari kualitas moral/spiritual? Lebih pentingkah suara merdu daripada komitmen melaksanakan amanah? Untung saja dalam argumen Anda kegantengan tidak dimasukkan sebagai dasar memilih SBY.

baca argumen saya diatas.

SBY juga menang secara retorika, tetapi lihat juga fundamen retorikanya, moralitas pidatonya. Orang komunikasi bilang: the speaker is the message. Bagaimana Anda bisa terpukau olah retorika yang hebat dari seorang yang meninggalkan amanahnya, yang di dunia militer disebut desersi?

baca argumen saya diatas.

Nah, dari 7 macam kecerdasan di atas yang paling penting untuk kualifikasi presiden dan pemimpin pada umumnya, berturut-turut ialah kecerdasan moral/spiritual, politikal, sosial, dan verbal. Kalau matematikal dan musikal juga ada baguslah, tapi kalau tak menonjol pun juga tak apa-apa.

Jadi jika ditimbang lebih saksama, maka skor kecerdasan Megawati untuk kualifikasi presiden, ternyata lebih unggul dibandingkan dengan Jenderal SBY, utamanya dalam bidang moral/spiritual, politikal, dan sosial. Ketiganya sangat fundamental dalam kepemimpinan. Soal kecerdasan verbal, Megawati kalah sedikit, tapi juga tak jelek-jelek amatlah. SBY unggul dalam musikal, tapi kecerdasan ini tak begitu penting dalam kepemimpinan. Maka all ini all, di mata saya, Megawati lebih cerdas dari Jenderal Susilo.

Argumentasi saya diatas malah menyatakan sebaliknya,....iya...bukan.!!
Sekali lagi, saya lebih memilih SBY-lah karena lebih cerdas(lihat tanggapan2 saya diatas),dan kita coba untuk 5 tahun yad, ,dengan harapan saya keliru memprediksi SBY(yang akan kurang mampu melanjutkan reformasi dan pemberantasan KKN itu);Sedangkan untuk limbuk,dengan penampilan 3 tahun lebih itu sudah memberi gambaran pasti bahwa reformasi akan mandeg dan KKN akan menggila,lebih2 karena ini adalah periode terahir boleh lagi jadi presiden (karena hanya boleh 2 kali) dan dianya tidak lebih baguslah dari SBY.


Tabik,
CintaBangsa

Tabik juga,
gdbct

Re: Milih siapa ?....SBY-lah.(30/7-04)

Re: Milih siapa ?....SBY-lah. Topic List < Prev Topic | Next Topic >
Reply | Forward < Prev Message | Next Message >
Re: [apakabar] Milih siapa ?....SBY-lah.

Yang tidak menggembirakan adalah walaupun yang golput buaaaanyak benar,tarohlah
sampai 60 % tapi pemilunya tidak akan dinyatakan batal,tapi akan ditetapkan
pemenang dari 40 % yang ikut milih.Yang memperoleh lebih banyak pasti memperoleh
50 % lebih satu dan menjadi pemenang.
Dimana pengaruh golput dalam pemilu itu ???? Nggak ada sama sekali......padahal
sipemenang, baik langsung maupun tidak langsung tetap berpengaruh dan
mempengaruhi perjalanan negara,bangsa,rakyat negeri ini termasuk kehidupan kita
masing2 sehari2 selama 5 tahun kedepan.
Sangat disayangkan kalau pemenangnya justru yang paling jelek dari dua yang ada.

gdbct
----- Original Message -----
From: A'ak
To: apakabar@yahoogroups.com
Sent: Thursday, July 29, 2004 10:09 AM
Subject: Re: [apakabar] Milih siapa ?....SBY-lah.


Pilpres 5 Juli kemarin komunitas para muda di tempat saya : Ada yang
aktivis, teknisi tv kabel, pencinta alam dan ibu rumah tangga. Jika dijumlah
lumayan juga sampai puluhan.
Dan semuanya memutuskan: GOLPUT!
Dan dari obrolan santai dengan kawan-kawan yang datang dari luar daerah,
kayaknya golputawan golputawati akan terus membengkak untuk putaran kedua
nanti.
Wah, kalau sampai suara GOLPUT mencapai 50 %, bisa bikin partai nih.

AKSI DAMAI GOLPUT UNTUK DEMOKRASI
rf

Re: Milih siapa ?....SBY-lah. (30/7-04)

Re: Milih siapa ?....SBY-lah. Topic List < Prev Topic | Next Topic >
Reply | Forward < Prev Message | Next Message >
Re: [apakabar] Milih siapa ?....SBY-lah.

Ahh...Sitorus..sebenarnya anda bisa cari cendiri dengan Google atau search
engine lainnya ...tapi okelah....
Tim Mega Center (TMC) atau Tim Kerja Mega Hasyim (TKMH) atau Tim Pemenangan Mega
Hasyim(TPMH) berpusat di jakarta dan secara organisatoris tersebar mengikuti
struktur PDIP diseluruh wilayah Indonesia.
Di Pusat ,Limbuk tidak menempatkan ex militer pendukungnya di TMC atau TKMH atau
TPMH,tapi berada didekat sekitar limbuk menjadi penasihat2nya dibelakang
layar.
Gubernur2 yang ex jenderal militer yang lebih dijagokan dari kadernya sendiri
itu adalah termasuk penasihat2 TMC di wilayah kerjanya.
Tadinya HP,HS,AG hendak dimasukkan resmi jadi anggota TMC Pusat tapi banyak yang
protes dari luar ; bukan berarti tidak dipakai,malah ikut dalam rapat2 TMC.Malah
tadinya SBY sebelum pisah ranjang adalah orang dekatnya lho.TK gemes lihat SBY
karena SBY dianggap tidak tau terimakasih malah hendak menyaingi Mega.Menurut TK
... anak t.k saja bisa terimakasih. AG sementara pada pilpres 1 yll ikut HaHa
dulu,jadi sedikit passiflah,tapi sekarang2 ini pasti sudah balik kanan masuk
barisan lagi.Kemudian ada lagi yang ex Pangdam TimTim,Irja yang masuk elit dekat
limbuk juga...khan.
Bedanya diantara mereka hanya SBY secara terus terang menunjukkan orang2 militer
yang ada mengelilinginya sedangkan MS menempatkannya tidak terus terang
saja,tapi semua orang dapat melihat dan mengetahuinya.

Aah....Torus :-),kau itu sedikit keliru mengenai durian busuk itu....Kau
tanyakanlah kawan2 kita yang dari Karo mengenai itu...
atau ada apakabarian ini yang dari Karo...mungkin bisa ngejelasin......

Tapi...kenapa SBY itu diibaratkan durian???...sedangkan MS diibaratkan tomat ??

Bagi saya sih......seperti sejak semula saya kemukakan dalam tulisan2 saya
disini ....kedua duanya ini sama2 tidak bisa diharapkan terlalu banyak
melanjutkan reformasi dan pemberantasan KKN yang sudah parah itu.
.Hanya seperti saya kemukakan dalam awal tulisan saya terdahulu " Memang suka
atau tidak suka sebaiknya memilihlah, supaya jangan muncul yang paling jelek ,
kecuali kalau ada yang menganut paham dialektika/ teori pembusukan........."
MS sudah membuktikannya selama 3 tahun lebih dia jadi presiden,kurang
cerdas,diam melulu,otoritarian,kebanyakan tidur siang dan menyalahkan
pembantu2nya dan warisan yang diperolehnya dimana itu sudah merupakan
habit,tabiat,sifat yang akan terus dia bawa bawa.
Sedangkan SBY memang adalah warisan Soe yang tidak bisa menghindar total dari
lingkungan masa lalunya tetapi lebih cerdas untuk kita coba selama 5 tahun
kedepan.

gdbct

Re: Milih siapa ?....SBY-lah. (28/7-04)

Re: Milih siapa ?....SBY-lah. Topic List < Prev Topic | Next Topic >
Reply | Forward < Prev Message | Next Message >
Re: SDM PDIP Re: [apakabar] Milih siapa ?....SBY-lah.

Ciri seorang yang otoritarian adalah bahwa dia menyatakan bahwa dia lebih tahu akan apa yang diinginkan rakyatnya daripada rakyatnya sendiri.
Inilah yang dinyatakan oleh limbuk dan geng-nya mengenai gubernur2 yang dibutuhkan oleh rakyat didaerah masing2 itu.
Limbuk dan gengnya menyatakan kader2 itu tidak tau gubernur/kepl daerah yang mereka butuhkan,menilai kader2 itu tidak becus atau kurang kwalifait untuk jadi gubernur,supaya ngikut aja yang limbuk dan geng-nya tentukan.
Lebih parah lagi kita dengar info.bahwa disetiap pil gub. itu bersileweran amplop2 berisi cek/giro bank yang total nilainya puluh miliar apakah itu di Jakarta,Jabar,Jateng,Jatim,Bali ,Lampung,Sumut dll.
Di Jateng dan Bali ada anggota legsltf.PDIP yang siap untuk tidak lagi jadi anggota legsltf dengan membuka kejorokan itu.Semua tau itu.
Iklan kampanye pilpres limbuk yll dengan menunjuk kedepan dengan meniru gaya Soekarno yang ototarian itu mencitrakan juga bahwa memang dia itu adalah ototarian habis-lah.
Apakah kita masih mau memilih orang seperti itu??;hanya kedelailah yang terantuk batu yang sama dua kali...

gdbct


----- Original Message -----

From: ANDRIONO YUNIARTO
To: apakabar@yahoogroups.com
Sent: Thursday, July 29, 2004 1:31 AM
Subject: SDM PDIP Re: [apakabar] Milih siapa ?....SBY-lah.

Pertama, dulu ada khabar, khusus Jawa dan Bali, gubernur dijabat ex-militer. Mengapa? Saya kira sampiyan-sampiyan faham masalah geopolitik Indonesia. Kedua, siapa yang tidak faham kualitas SDM-PDIP. Hanya karena idea demokrasi kemudian rakyat menjadi korban pimpinan daerah yang nggak becus. Temen saya di Surabaya pernah bilang, yang sangat berperan dalam pengelolaan kota Surabaya bukanlah Walikota-nya, namun Sekda-nya.

Beberapa kasus--saya kira banyak juga--wakil rakyat dari PDIP yang kurang "pinter" atau barangkali bahkan "tidak pinter". Mbaca

Megawati atau Susilo B Yudhoyono? (28/7-04)

Re: Milih siapa ?....SBY-lah. Topic List < Prev Topic | Next Topic >
Reply | Forward < Prev Message | Next Message >
Memang suka atau tidak suka sebaiknya memilihlah, supaya jangan muncul yang
paling jelek,kecuali kalau ada yang menganut paham dialektika/ teori
pembusukan.........
Tulisan ini mah bukan pertanyaan,tapi promosiin limbuk lah.
Perihal dikelilingi ex militer,dua2nya sami mawonlah,cari aja sendiri siapa2
yang ngelilingi mereka.
Kita udah coba 3 tahun lebih si limbuk,ternyata dia juga adalah
militeristik/otoriter habis.Buktinya....saya kasiin info kalau belum tau..tidak
ada satu pun usulan calon gubernur dari kadernya yang
direkomendasikannya....malah ngejagoin yang lama2 jadi menjabat dua kali,dan
semua ex militer bukan...!??Malah kader2nya yang mencalonkan diri yang
membesarkan dia dipecatin.Gara2 kepemimpinannya yang ngawur itulah maka
reformasi nggak jalan,ex Orba bisa mengadakan konsolodasi, Golkar bangkit
kembali dan terbukti dengan menjadi pemenang pada pemilu kegislatif yll.
Daripada kita memilih seorang sipil yang militeristik/otoriter dan yang kita
sudah tau kegagalannya pada masa yll,lebih baik kita coba 5 tahun yad seorang ex
militer yang sipil yang kita juga tau termasuk cerdas bukan !!?

gdbct.


----- Original Message -----
From: JASP
To: apakabar@yahoogroups.com
Sent: Tuesday, July 27, 2004 8:45 AM
Subject: [apakabar] Milih siapa ?




Memilih presiden dan wakil presiden merupakan hak demokrasi, demikian juga
kalau tidak memilih sma sekali. Tulisan ini barangkali bermanfaat untuk
direnungkan, apakah memilih SBY-JK ataukah memilih Mega- Hasyim. Ulasan dengan
kepala dingin meunjukkan bahwa memilih presiden dan wakilnya bukan hal yang
gampang dan kalau salah memilih malah DEMOKRASI makin jauh !

Simak tulisan dibawah ini !




Selasa, 27 Juli 2004

Megawati atau Susilo B Yudhoyono?


Oleh Jusuf Wanandi


MESKI secara resmi hasil pemilihan presiden putaran pertama belum ditetapkan,
namun dapat dipastikan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Megawati akan maju ke
putaran kedua yang menentukan. Banyak yang bertanya, siapa yang sepantasnya
dipilih? Ada pendapat, di antara keduanya tidak ada perbedaan besar, maka
pilihan di bilik pemilu 20 September nanti bisa dibuat dengan mata tertutup. Ada